Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juni 2014

Kisah Nyata Pasangan Menikah Pengguna Narkoba


Assalamu'alaikum, teman-teman.

Ketika saya sedang browsing, tidak sengaja saya melihat beberapa situs yang memaparkan tentang kisah kisah pengguna narkoba, dan menemukan kisah di bawah ini yang cukup menarik, yuk kita check saja :)

"Beberapa hari yang lalu seorang teman lama menyapa saya di Whatsapp. Nyaris dua puluh tahun tidak pernah bertemu, senang rasanya bisa menyambung tali silaturahim dengannya. Lebih bahagia lagi melihat profile picture yang dipasangnya dengan keluarga. Singkat cerita, saya mengetahui kalau dia menikah dengan pacar masa SMA dulu, yang juga teman saya. How romantic. Tapi cerita tak berhenti di sana.



Namanya IN, seusia dengan saya. Dulu kami satu sekolah sejak SMP. Ketika SMA, IN pacaran dengan teman sekelas saya bernama AB. Mereka masuk kategori pasangan keren di mata saya. IN cantik, AB juga nggak kalah cool. Prestasi sekolah mereka masih masuk rata-rata umum waktu itu. Long story short, they're  perfect couple. 

Di Whatsapp, IN banyak bercerita pada saya tentang kehidupan rumah tangganya dengan AB. Atas ijin IN, saya menuliskannya di sini agar hikmah yang didapat IN saat ini bisa juga jadi bahan pelajaran untuk kita semua.

Saat SMA, AB mulai mencoba-coba narkoba dengan teman-teman sepergaulannya. Sebenarnya waktu itu saya sudah mendengar selentingan tentang keterlibatan AB dengan narkoba. AB bukan anak bodoh dan bukan juga anak yang datang dari keluarga berantakan. Status ekonomi keluarganya pun bisa dibilang baik-baik saja. In fact, AB masuk kelas unggulan bersama saya saat SMA. Walaupun selama dua tahun di kelas unggulan, AB memang struggling untuk dapat melewatinya dengan nilai baik, sama seperti saya. Intinya, there's nothing wrong about AB. 

Tahun terakhir SMA, AB makin terjerumus dalam narkoba dan IN masih setia bersamanya. Saya bisa memahami perasaan IN saat itu, karena saya pun pernah berada dalam posisinya beberapa tahun kemudian. Melihat orang yang kita sayang menderita karena narkoba, tentu perih sekali. IN tidak tega meninggalkan AB karena rasa sayangnya. Tapi karena kurangnya pengetahuan IN tentang narkoba saat itu, IN ikut terjerumus memakai narkoba.

Berawal dari ajakan AB untuk mencicipi ganja, kemudian berlanjut ke segala rupa narkoba mereka pakai bersama. Sampai akhirnya menjelang lulus SMA mereka sudah sampai pada taraf kecanduan. Berdua, IN dan AB, melalui hari-hari gelap mereka bersama narkoba. Terseok-seok berusaha memenuhi kecanduan dengan memenuhi "panggilan" sakaw yang makin intens, mereka akhirnya tersesat. 



Keluarga IN juga bukan keluarga berantakan. Orang tuanya sangat perhatian dan sayang pada anak-anaknya. Semua kebutuhan mereka penuhi. Dan begitu mengetahui IN terseret dalam dunia narkoba, mereka segera mengirim IN ke pesantren untuk direhabilitasi. Tindakan ini juga mereka lakukan untuk menjauhkan IN dari AB. Di waktu yang sama AB pun dikirim ke pesantren yang berbeda oleh orang tuanya untuk rehabilitasi. 

Sebulan kemudian, IN pulang ke rumah. Rehabilitasinya dinyatakan sudah selesai. Selama di pesantren IN mendapat siraman-siraman rohani yang begitu menancap dalam hatinya. IN pulang dengan tekad ingin terbebas dari narkoba. Tapi perasaannya pada AB masih tetap sama, IN masih sayang padanya. Diam-diam, walaupun dilarang oleh orang tuanya, IN kembali menemui AB. 

Saat orang tua IN mengetahui hal itu, mereka langsung mengirim IN kembali ke pesantren. Sementara AB, begitu keluar dari pesantren kembali menggunakan narkoba. Keadaan belum membaik sama sekali untuk mereka berdua. Hal itu berulang beberapa kali sampai mereka lulus SMA.

Begitu lulus SMA, IN dan AB akhirnya dinikahkan. Mereka pun memulai hidup baru. Saat itu IN sudah lepas sama sekali dari ketergantungannya. Kemauannya sangat keras untuk terlepas dari narkoba dan dukungan orang tuanya juga sangat intens sehingga IN merasa mendapat kekuatan. Selain itu IN mulai menyadari, kalau berserah pada Tuhan adalah jawaban yang paling benar untuk bisa keluar dari masalahnya itu.

Tapi tak semudah itu dengan AB. Sampai mereka memiliki anak, AB masih mengkonsumsi narkoba. IN tak pernah putus asa hingga hampir 19 tahun  usia pernikahan mereka saat ini, dia tetap berusaha mendampingi AB agar bisa terbebas dari narkoba. Banyak kejadian miris yang mereka alami selama berumah tangga. Dengan kondisi telah memiliki anak, IN harus bisa melindungi penglihatan anak-anaknya saat AB mengkonsumsi narkoba. Anak mereka tumbuh makin besar, tentu saja makin sulit menyembunyikan kenyataan kalau ayah mereka adalah pengguna aktif narkoba di rumah.

Tak jarang IN menangis sendiri, berdoa dan meminta jalan keluar dari masalah ini. Hal yang paling melukai perasaannya adalah ketika anak tertuanya akhirnya mengetahui kalau ayahnya seorang pemakai narkoba. Suatu hari di sekolahnya diadakan penyuluhan tentang narkoba dari pihak kepolisian. Sepulang dari sekolah itulah anak sulungnya mengatakan kalau dia tahu apa yang dilakukan ayahnya selama ini. Walaupun selama ini IN berusaha menyembunyikannya, anaknya ternyata pernah menyaksikan beberapa kali. 

Saya pun bertanya pada IN, "Apa yang bisa buat kamu bertahan begitu lama?" IN hanya menjawab, "Kekuatan dari Allah, Win!" IN menambahkan, dulu dia bisa terbebas dari narkoba karena orang tuanya tidak pernah berhenti dan putus asa mendampingi dan mendukungnya. Dia harus melakukan hal yang sama untuk AB. Karena pada dasarnya mereka memang saling mencintai sejak dulu. 

Saya hanya bisa berdoa untuk kebaikan keluarga mereka. Saat saya tanya bagaimana keadaan AB saat ini, IN menjawab, "Alhamdulillaah, sudah seminggu ini nggak pakai, Win!" dilanjutkan dengan ikon senyum yang sangat optimis. Mau tidak mau saya ikut tersenyum. Sebaris doa saya panjatkan, semoga kali ini, untuk selamanya AB berhenti mengkonsumsi narkoba dan bisa terbebas selamanya. Semoga dengan optimisme IN, dukungan dari seluruh keluarganya, AB mampu melewati ini.


Kisah IN dan AB ini hanya salah satu contoh dari fenomena pasangan pengguna narkoba yang masih bergelut dan berjuang untuk terbebas dari jeratannya. Seandainya ada anggota keluarga kita yang terlibat, bantu mereka. Kirim segera ke tempat rehabilitasi, berikan dukungan dan perhatian, selalu dampingi mereka. Karena sebenar-benarnya tindakan untuk para pengguna ini adalah rehabilitasi pengguna narkoba. Sebelum keadaan menjadi lebih buruk. Biar bagaimana pun, pengguna narkoba lebih baik direhabilitasi dari pada dipenjara. Kita bebaskan Indonesia dari narkoba. Selamatkan anak bangsa, dukung BNN memberantasnya. Ayo, Indonesia Bergegas! Tahun 2015 nanti, kita harus sudah terbebas dari narkoba. Mulailah dari diri sendiri dan orang-orang terdekat kita, seperti yang dilakukan IN yang tidak menyerah menyelamatkan AB, suaminya.

*Seperti yang dikisahkan IN pada Emak Gaoel* 
Source : http://emakgaoel.blogspot.com/2014/03/kisah-nyata-pasangan-menikah-pengguna.html

Rabu, 11 Juni 2014

Kisah Nyata: Suara Hati Mantan Pecandu Narkoba


13997016181638997681
Gibon mantan pecandu yang telah pulih. Foto ini sudah seijin Gibon untuk ditayangkan. (foto Ganendra)
“Hal yang patut disadari bahwa narkoba itu penyakit. Penyakit yang merusak tubuh. Pertanyaannya, kamu mau investasi penyakit dalam tubuhmu atau tidak? Kamu mau memelihara penyakit dalam tubuhmu atau tidak? (Gibon)
Menjadi seorang pecandu narkoba tentu bukanlah cita-cita. Meski di sebagian benak generasi muda menjadi lifestyle ‘kebanggaan’ sebagai pemakai narkoba, namun etika dan moral di masyarakat khususnya keluarga, pemakai narkoba adalah aib. Aib yang harus dihindari dan dijauhi. Saking malu karena dimengerti sebagai aib, bahkan menyembunyikan bila ada anggota keluarga yang terlanjur menjadi pecandunya. Tanpa disadari, bahwa hal itu semakin membahayakan jiwa pecandunya. Pemahaman yang kabur tentang betapa berbahayanya ‘barang-barang bermerek narkoba’ itu, terkadang tak sanggup mengalahkan ‘gengsi’ dan harga diri keluarga di mata masyarakat.
Banyak faktor orang terseret ke dalam rayuan narkoba. Awal pemakai narkoba bukanlah kecelakaan, namun telah diketahui akan bahaya maupun dilarangnya barang tersebut. Namun rasa ingin tahu, penasaran, ingin mencoba, gaya hidup, dan lain sebagainya mengalhkan akal sehat. Akal sehat yang akan menjadi tidak sehat dengan digerogotinya oleh zat-zat jahat yang dikandung di dalamnya.
Seperti halnya Gibon, demikian nama panggilan akrabnya. Dia adalah mantan seorang pecandu narkoba yang sempat ‘bersahabat’ dengan narkoba selama puluhan tahun. Sekian lama jatuh bangun menjalani kehidupan kelam seorang pecandu. Hingga semangat perubahan meneranginya untuk mengubah gaya hidup suram menjadi gaya hidup sehat seperti umumnya. Tentunya tidak mudah dilakukannya, namun bertahap Gibon menemukan titik terang dari perjalanan suram masa lalunya yang hampir tak ada impian masa depan di dalam benaknya saat itu.
Penulis berkesempatan berbagi cerita dengannya di kantornya Kapeta Foundation, di kawasan Cinere, Jakarta Selatan tempat dia mengabdikan diri bekerja membantu para pasien pecandu narkoba, bulan lalu. Kapeta adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang narkoba, HIV AIDS, dan isu semacamnya.
Gibon bukanlah dari keluarga yang bermasalah. Bersama adik perempuannya ia mempunyai masa kecil indah dengan keluarganya. Perawakan yang terlihat adalah gagah, tegap. Raut wajahnya mengekspresikan optimisme saat bertutur kisah. Dilahirkan di Bukittinggi, pria yang belum genap berusia 30 tahun ini sanggup bangkit dari keterpurukan hidup akibat godaan narkoba, yang dulu dengan antusias digelutinya. Tiada hari tanpa narkoba, mungkin motto yang cocok untuknya, saat itu.
Masa kecilnya dilalui di Ibukota seiring orangtuanya yang pindah tempat tinggal. Seperti anak-anak kebanyakan, bangku sekolah dasar ditempuhnya. Hingga tamat. Lalu melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditempuhnya. Seiring pertumbuhan dan perkembangan jiwa remaja, hal-hal baru sangat menarik perhatiannya. 14 tahun. Angka yang tak bakal dilupakannya. Angka keramat saat dirinya terpenuhi rasa penasaran dan keingintahuan tentang sesuatu yang dianggap ‘keren’ namun keliru yang tak disadarinya, saat itu. Narkoba. Gibon mencoba barang jenis narkoba untuk pertama kalinya pemberian dari teman-teman sebayanya.
“Saya dikenalkan narkoba oleh teman, buat gaya-gayaan. Orang tua jauh-jauh sebelumnya pernah berpesan, memperingatkan, jangan coba-coba drugs. Namun pengambilan keputusan saya waktu itu tidak bagus. Obat-obatan gak kupakai, tapi yang lain saya pakai, yaitu minum dan heroin. Setiap hari menggunakan,” tuturnya tersenyum.
Tak cukup hanya itu, kian hari Gibon kecil semakin fasih dengan nama-nama narkoba yang dikonsumsinya. Dari narkoba jenis hisap dan pil menjadi ‘sahabat’ yang dicintainya selama sepuluh tahun! Rentang waktu yang bukan pendek. Di waktu-waktu itulah kesehariannya dilalui dengan ketergantungan pada barang haram itu. tentu saja secara sembunyi-sembunyi hal itu dilakukannya.
Entah berapa banyak uang saku, uang bayaran sekolah dipakainya untuk memenuhi kebutuhan itu. Hingga jenjang SMA tamat Gibon belum terlepas dari narkoba. Kebutuhan narkoba yang semakin meningkat mambawanya menjadi pengedar diantara kawan-kawannya. Tak pelak ruang dingin penjara pernah diinapinya. Maklum saat itu para pecandu narkoba mendapatkan sangsi pidana belum ada payung hukum untuk rehabilitasi, seperti tertuang dalam Undang-Undang No. 35 yang terbit pada 2009.
Tak pelak kebiasaan pecandu narkobanya terkuak di pihak terdekatnya, keluarga. Orangtuanya mengetahui kebiasaan Gibon saat dirinya telah ketergantungan dengan narkoba.
“Awalnya yang tahu keluarga dekat. Lama-lama lingkungan pada tahu. Banyak teman yang ketemu menanyakan kondisi. Terkadang saya masih gak percaya diri. Saya merasa dia merendahkan saya. Padahal mungkin dia mau mau memotivasi saya. Sifat ketergantungan itu nampaknya membuat distorsi antara mana benar mana tidak. Otak udah terganggu oleh zat-zat itu,” katanya.
Beruntung meski dikecewakan anaknya, orangtuanya segera mengambil langkah membawa Gibon ke rehabilitasi. Tak mudah tentu saja.Gibon menolaknya. Berkali-kali pula ia keluar masuk rehabilitasi. Kambuh dan kumat-kumat lagi.
“Awalnya gak mau direhab. Tidak ada kesadaran untuk rehab namun orangtua memaksa, akhirnya pertama dibawa untuk rehabilitasi, ada penyangkalan dalam diri saya bahwa saya tuh gak bermasalah,’ namun seiring waktu saya merasa itu benar. Saya sakit,” katanya.
Menjalani rehabilitasi sangat tak mudah baginya. Gibon ‘jatuh bangun’. Keluar masuk rehab. Beberapa kali menjalani ‘treatment’. Perawatan kurang baik akhirnya kambuh lagi. Begitu terus terjadi berulang-ulang. Saat kondisinya mulai membaik, kambuh lagi.  Peristiwa jatuh bangun itu menyadarkannya bahwa dia belum siap. Dari konseling dia mengetahui  bahwa narkoba adalah penyakit kronis yang perlu disembuhkan. Penyakit otak. Gibon menjadi terpikir tidak adanya kesadaran untuk rehab menjadi masalahnya. Dan jika tidak bergaya hidup sehat, tidak memelihara emosi,  maka kecenderungan pemakaian akan kembali ada. Hal-hal yang diberikan saat rehabilitasi tidak dia jalankan sepenuhnya.
“Ini penyakit sehingga niat saja tidak cukup. Sudah tau ini tidak bagus, saya sudah tahap adiksi, karena ini penyakit kronis sewaktu waktu bisa mendorong, kalau saya tidak bisa mengatasi dorongan-dorongan itu, maka akan kambuh,” tuturnya.
Sekian lama Gibon menjalani rehabilitasi. Niat kesembuhan kian hari kian membesar, setelah jatuh bangun saat treatmen. Dia berkemauan untuk pulih. Pemahaman dan kesadaran bahwa narkoba adalah penyakit yang tak layak dikonsumsi menguatkannya untuk pulih. Bertahap ia harus lalui dengan keras melawan keinginan yang ditolaknya akibat sifat adiksi/ kjetergantungan pada narkoba yang sudah diidapnya.
“Saya tidak mau pakai, tapi di tingkat adiksi itu ada tahap-tahapnya. Satu kali pakai saja akan mendorong penyakit itu kambuh. Seperti penyakit diabetes oleh dokter tidak boleh makan gula, jika makan gula berlebihan yaa kambuh,” katanya.
Hingga perawatan direhabilitasi dijalani dengan sungguh-sungguh. Dia berpikir, mungkin dirinya bukan termasuk orang yang langsung bisa melangkah dengan mulus, tapi mesti banyak belajar. Lebih baik dirinya mendalami adiksi narkoba dengan benar, yakni dengan belajar menjadi konselor, membantu orang lain, membantu diri sendiri, mengingatkan pada dirinya sendiri. Dia menyadari jangka waktu pemakai narkoba cukup lama. Dia ingin mengubah itu semua. Menjadi konselor menjadi jalan keputusannya untuk bangkit.
“Itu keputusan yang komprehensif bagi saya pribadi. Satu sisi saya membantu diri saya sendiri, juga membantu orang lain, saya membantu diri saya dengan training-training supaya mempunyai  dasar yang jelas dan benar soal seluk beluk narkoba, bukan hanya dari pengalaman saja,” katanya.
Dia bersyukur akhirnya kepulihan itu mulai dirasakannya. Dia menyadari peran keluarga terutama dari orangtuanya sangat besar. Dukungan dan motivasi yang diberikan mereka menjadi salah satu ‘spirit’ yang membangkitkannya untuk bergaya hidup sehat. Dukungan keluarga yang sangat dibutuhkannya.
“Orangtua saya memberi motivasi yang luar biasa, meski saat ini mereka juga masih agak khawatir kalau saya terjerumus kembali. Terkadang kalau saya pulang telat, mereka masih was was dan cemas. Tapi saya berniat untuk dapat bertanggungjawab pada diri saya pribadi untuk benar-benar lepas dari jeratan penyakit narkoba itu,” tuturnya.
Ketidaktahuan, keingintahuan, pengalaman, rehabilitasi telah dilalui Gibon. Saat ini dia menjadi bagian dari Yayasan Kapeta. Kesehariannya dipenuhi dengan beragam kegiatan dengan teman-teman yang bernasib sama sepertinya dulu. Terjerumus narkoba dan ingin pulih dari pengaruh penyakit jahat itu. Mulai pagi hingga sore hari dia berkecimpung melayani para klien di yayasannya. Sementara di hari lain rutinitas yang dijalaninya dengan normal, bergaul dengan teman, berbagi cerita, refresing, mendengarkan musik, jalan ke mall dan kegiatan lainnya.  Salah satu hal yang ingin diraih dan diwujudkan karena menjadi impiannya adalah menjadi konselor bersertifikasi internasional.
“Ada 9 kurikulum untuk mendapatkannya, saat ini saya baru menyelesaikan kurikulum 3. Dengan sertifikasi ini saya ingin menjadi konselor di tingkat Asia Pacific,” pungkas dengan semangat.
Cita-cita dari niat yang baik, membantu orang lain dari sebuah catatan pengalaman pribadi yang tidak menyenangkan. Semoga saja dapat terkabulkan. Masa depan masih terpampang luas baginya dan orang-orang yang senasib sepertinya.
source : kompasiana.com

Cerita Mantan Pecandu Narkoba



Dari Coba-coba, Hidup Tak Berguna dan Kena HIV

Pengalaman selama tujuh tahun terjerat dalam ketergantungan narkoba, membuat Asep Hidayat sadar untuk kembali menikmati kehidupan yang normal. Seperti pecandu lain, semula ia hanya mencoba karena diajak temannya.
Namun, lama-kelamaan menjadi kecanduan hingga pada suatu kondisi dirinya merasakan kehidupannya sama sekali tak berguna. Bahkan, kehidupannya selama tujuh tahun (1995-2002) itu dirasakan sia-sia.
BAGI Asep, kondisi seperti itu tidak untuk disesali, tetapi dijadikan bahan pelajaran bahwa hidup tidak hanya berhenti pada satu kondisi. Ada kondisi lain bernama perubahan. Hidup sebelum menjadi pecandu adalah dunia normal.
Hidup saat jadi pecandu merupakan dunia gelap dan hidup setelah pulih adalah hidup lebih dari sekadar normal. Untuk itu, ia pun berbagi pengalaman saat diskusi di Warung 63, Jalan Veteran, Denpasar, Selasa (28/8).
Sebelum menjadi pecandu narkoba, cerita Asep, ia awalnya nongkrong dengan beberapa temannya di suatu tempat. Dari beberapa temannya itu, ada satu, dua yang sudah menjadi pengguna narkoba.
''Saya pertama kali mengonsumsi narkoba jenis heroin pada 1995. Sempat juga mengisap ganja. Awalnya, saya diajak teman. Kalau tidak mau, mereka tidak akan menerima sebagai kelompoknya,'' aku Asep.
Pria perwakilan dari Yayasan Dua Hati Bali ini menjelaskan, ketika itu faktor informasi sangat minim. Dengan strateginya, mereka menawarkan narkoba kepadanya dalam bentuk cairan dengan jarum suntik. Awalnya, mereka memberikannya secara gratis dan diajari bagaimana menggunakannya. ''Pertama kali mencoba seperti orang keracunan,'' akunya.
Setelah merasakan pertama, temannya terus memengaruhi dan mereka datang untuk menawarkan. Begitu rutin memakai barang haram itu, dia mengaku mulai merasakan sensasinya. Ia pun mulai menarik diri dari keluarga. ''Ketika ingin mencoba untuk berhenti, saya merasakan kesakitan. Apalagi jika kena air, rasanya seperti kesetrum. Makanya, pecandu itu jarang mandi,'' tuturnya.
Di tengah merasakan sakit itu, temannya kembali datang. Mereka pun mengatakan kalau ingin sembuh harus menggunakan heroin untuk menghilangkan rasa sakit itu. Saat itu, ia mulai membeli sendiri barang haram tersebut kepada pengedar. ''Karena tidak punya uang, maka terpaksa mencari sendiri. Pertama saya menjual gitar, kemudian jual sound system dan semua barang di rumah saya jual,'' terangnya.
Harga heroin waktu itu, lanjutnya, masih Rp 25 ribu. ''Begitu mendapat barang itu, hampir setiap dua jam saya memakainya dengan cara suntik. Bahkan, paling sedikit tiga kali sehari. Setelah semua barang habis, saya mulai bohong sama keluarga untuk bisa mendapatkan uang. Bahkan di sekolah, paling banyak masuk dua kali seminggu. Jadi, benar-benar hancur hidup saya waktu itu,'' ujarnya lirih.
Apalagi, lanjutnya, saat itu untuk mencari heroin itu sangat gampang, tidak seperti sekarang. Dalam perjalanan sebagai pencandu berat, ia sudah tidak memikirkan kehidupan. Ia hanya ingat dengan heroin.
Nah, pada 2002 ia mulai merasakan titik jenuh karena dicurangi oleh teman-temannya. ''Misalnya saya suruh teman beli barang, namun selalu dikurangi. Nah, saat itulah saya merasakan ada kejenuhan,'' ungkapnya.
Akhirnya, ia mempunyai keinginan untuk berhenti dan hanya diam selama seminggu di rumah. Saat diam itu, ia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Sakit itu dirasakan selama empat hari, bahkan sampai tidak tidur.
Tanpa diduga, ia kembali didatangi oleh temannya dan kembali memengaruhinya. ''Saya tersugesti lagi untuk memakai heroin. Akhirnya, jatuh lagi dan itu lebih parah karena semua keluarga dan pihak sekolah tahu,'' ceritanya.
Yang lebih parah lagi, ia diusir oleh orangtuanya dan hidup di jalanan selama enam bulan. Karena kehabisan akal untuk mencari uang, maka ia rela tinggal di rumah temannya dan menyapu rumahnya.
Temannya itu juga pengguna narkoba dan dia ''menempelnya'' hanya untuk mendapatkan barang setan tersebut. Berselang lama, ia pun bertekad untuk betul-betul berhenti karena terus memikirkan keluarga.
Akhirnya, ia meminta kepada orangtuanya untuk mencarikan pondok pesantren dan dia pun langsung dibawa ke pesantren di Jawa. ''Selama proses pemulihan itu, sakit yang saya rasakan sangat luar biasa. Setelah enam bulan di sana, saya diperbolehkan pulang dan meminta kepada orangtua untuk dicarikan kos. Maksudnya, biar saya jauh dari orang-orang yang memengaruhi saya dari narkoba itu. Akhirnya, saya berhenti total,'' ucapnya.
Meski berhenti, ia merasakan ada yang perlu harus diketahui lebih dalam. Ia melakukan check-up dan positif hepatitis dan HIV. Mengetahui hal itu, mentalnya kembali down. Namun, ia tetap bersemangat dan bergabung dengan komunitas orang-orang yang terjangkit penyakit yang sama. ''Di sana, kami sharing dan saling support. Akhirnya, saya berobat dan dinyatakan oleh dokter kalau saya sudah mendekati orang normal,'' terangnya.
Selanjutnya, ia menikah dengan seorang wanita pada 2004. Perempuan yang dinikahi itu mengetahui latar belakang Asep, namun syukurnya mau menerima kondisinya. ''Pertama kali saya kasi tahu, justru mertua saya yang menolak karena penyakit yang saya derita.
Syukurnya, mertua saya kemudian mau menerima dan akhirnya saya menikah serta mempunyai satu anak. Lebih bersyukur lagi, istri dan anak saya dinyatakan negatif HIV,'' uangkapnya dengan penuh syukur. (jay/nik)
source : Facebook/Balipost

Selasa, 10 Juni 2014

Pesan "KAKA" Slank Untuk Pengguna Narkoba

Kaka 'Slank' (Foto: Dok Okezone)  
Kaka 'Slank' (Foto: Dok Okezone) 
JAKARTA - Vokalis band Slank Kaka pernah merasakan terjerumus narkoba. Kaka menyayangkan semakin banyaknya orang yang kepincut narkoba dengan alasan tak masuk akal, seperti demi menjaga stamina.

"Banyak faktor yang membuat orang, termasuk artis terpengaruh menggunakan narkoba. Biasanya mereka pengguna, awal pemakian karena terpengaruh dan dipengaruhi orang sekitar. Kemudian faktor lainnya sebagai dopping. Misalnya, agar lebih rileks dalam melakukan segala hal," kata Kaka kepada okezone, Minggu (13/3/2011).

Belakangan ini sejumlah artis dicokok pihak berwajib karena masih saja intim dengan barang haram yang sudah dilarang penggunananya oleh pemerintah itu. Perihal gencarnya polisi menangkap artis narkoba, kata Kaka, hal itu karena pemerintah ingin menyetop peredaran obat terlarang yang sudah sangat meresahkan.

"Dari dulu sudah banyak yang makai (narkoba). Sekarang ini, polisi memang sedang melakukan operasi khusus yang ditujukan kepada para pemakai dan bandar," duga musisi yang sedang tor di Kalimantan itu.

Kaka mengimbau kepada teman sesama profesinya di dunia entertainment agar segera berhenti menjadi budak barang haram yang kapan saja bisa mengantar nyawa di ambang maut.

"Aku itu tipe orang yang enggak suka menggurui. Lagian hari gini semua aspek butuh hidup enerjik dan cepet. Jangan mau digantung sama narkoba karena kita enggak akan bisa cepat mengejar. Secepatnya untuk berhenti tergantung sama yang begituan," tegasnya